Wamenlu RI Ajak IMSA Menjadi Organisasi Global 

44

Hal itu diungkapkan Mahendra dalam Muktamar ke-20 Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA)

Mahendra Siregar mengungkapkan rasa bangganya pada komunitas dan diaspora Indonesia seperti Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA). Karena IMSA sudah menjadi organisasi besar dan mapan sehingga selama 20 tahun ini mampu mengadakan pertemuan tahunan atau muktamar.

“Kalau lihat dari umurnya, sudah dewasa. Mestinya, sudah bisa langgeng terus ya?” ungkap Mahendra.

Namun, Mahendra justru mengaku khawatir organisasi mapan diaspora Indonesia akan kehilangan relevansi dan konteks yang up-to-datebagi generasi berikut sehingga akan ditinggalkan. Mahendra, yang merangkap Duta Besar Indonesia untuk Amerika ini, menyayangkan kalau itu sampai terjadi. Karena, menurutnya, organisasi seperti IMSA sangat dirindukan komunitas lain di manapun karena bisa terus mendorong nilai-nilai agama dan nasionalisme.

Ia memaparkan, selagi Indonesia memulai reformasi demokrasi, di Amerika sejak 20 tahun lalu semakin mengemuka kebebasan beragama sebagai salah satu hak asasi. Dan itu tercermin dalam diplomasi ataupun politik luar negeri, dengan adanya perangkat untuk menilai kondisi kebebasan beragama di negara-negara lain.

Tetapi kini, menurut Mahendra, yang lebih mengemuka adalah, ia mengistilahkan, liberal versus konservatif. Kebebasan untuk tidak beragama dan kebebasan untuk beragama. Dan ini lagi-lagi tercermin dalam kebijakan luar negeri Amerika, dengan menilai kebebasan beragama di negara-negara yang dianggap seterunya, tidak lagi berlaku untuk semua.

Dalam muktamar ke-20 IMSA di Chicago, Illinois, Mahendra, yang 20 tahun lalu bertugas sebagai konsular bidang penerangan di KBRI Washington, mengakui, situasi itu membuat tidak mudah mempertahankan organisasi di Amerika karena Amerika sendiri berubah drastis. Supaya langgeng, Mahendra menyarankan IMSA menjadi organisasi global.

Wamenlu Mahendra Siregar dalam Muktamar Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA) ke-20 di chicago, Illinois, 27 Desember 2019. (Foto: Karlina Amkas/VOA)
Wamenlu Mahendra Siregar dalam Muktamar Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA) ke-20 di chicago, Illinois, 27 Desember 2019. (Foto: Karlina Amkas/VOA)

Menurutnya, ada dua opsi. Pertama, bersikap netral tetapi pasif. Kedua, cenderung memihak, opsi yang berdasar pengamatannya, jarang diambil diaspora Indonesia.

Mahendra mengingatkan, bersikap netral berisiko karena tidak termasuk pengambil keputusan. Selamanya akan dianggap pihak luar. Ia menawarkan opsi lain.

“Aktif mempromosikan nilai-nilai kita sendiri,” ujarnya.

Opsi itu bukan sikap yang netral melainkan, secara hati-hati, oportunistik. Konservatif untuk isu sosial, dan terkait isu imigran gelap, misalnya, cenderung liberal.

IMSA, kata Mahendra, bertanggung jawab moral menyalurkan dan menyuarakan cara pandang tersebut supaya didengar dan ikut mempengaruhi proses pengambilan keputusan dan diperhitungkan sebagai organisasi di Amerika ini. Ia menyarankan IMSA lebih aktif dan menjadi bagian proses perspektif politik yang ada.

“Kita punya hak untuk bicara aspirasi politik tadi karena kita berasal dari negara dan bangsa yang saat ini adalah the largest presidential democracy in the world,” kata Mahendra.

“Indonesia negara demokrasi yang lebih besar bahkan dari Amerika. Padahal, kita baru belajar demokrasi lagi 20 tahun lalu. Dan belajarnya termasuk dari Amerika,” tambahnya.

Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dan Presiden Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA) Syafrin Setiawan Murdas, di Chicago, Illinois, 27 Desember 2019. (Foto: Karlina Amkas/ VOA)
Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar dan Presiden Masyarakat Muslim Indonesia di Amerika (Indonesian Muslim Society in America/IMSA) Syafrin Setiawan Murdas, di Chicago, Illinois, 27 Desember 2019. (Foto: Karlina Amkas/ VOA)

Ia mengungkapkan data dari Pemilu Indonesia pada April lalu yang menunjukkan lebih dari 80 persen atau 155 juta pemilih menyalurkan hak pilih. Jumlah itu jauh lebih besar daripada jumlah pemilih dalam pemilu kapanpun di Amerika. Di AS, jumlah pemilih tidak pernah lebih dari 60 persen atau 140 juta orang.

“Ini memungkinkan kita untuk berbicara,” tegasnya.

Berdasar pengamatannya selama delapan bulan menjabat Dubes, belum ada organisasi diaspora Indonesia yang mengarah ke sana. Bahkan, menurutnya, cenderung ke warga dan keluarga walaupun sudah puluhan tahun tinggal di Amerika. Ia mengingatkan risiko organisasi seperti itu kehilangan relevansi bagi anggota generasi muda karena mereka tidak mempunyai sentimental values.

Presiden IMSA Syafrin Setiawan Murdas mengakui kaki IMSA terbagi antara Indonesia dan Amerika. Menanggapi kekhawatiran Mahendra, ia mengatakan, IMSA akan membuat program yang lebih merangkul dan melibatkan generasi kedua sementara terus menjalankan visi intinya.

“Kita mulai berkolaborasi dengan organisasi Muslim yang ada di Amerika, bergabung dengan yang lebih besar, mulai ikut program kepemudaan mereka, menyadur modul-modul program yang baik dan atraktif dan dicampur dengan program kekinian. Dan kita akan benahi masalah digital marketingIMSA,” papar Syafrin.

Salah satu hal yang dihasilkan dalam Muktamar ke-20 IMSA yang berakhir Jumat (27/12) malam adalah penetapan kembali Syafrin Murdas sebagai presiden IMSA untuk periode mendatang dan bahwa Muktamar IMSA tahun depan akan dilakukan di pantai Barat Amerika.

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia