Suku Bunga KPR Rendah, Diaspora Indonesia Beli Rumah Impian di AS

20

Membeli rumah di Amerika tidak sesulit yang dibayangkan banyak warga Indonesia, apalagi bila agen jual-beli atau realtornya juga warga Indonesia. Selain nyaman karena tanpa hambatan bahasa, realtor bisa membantu mencarikan perusahaan pemberi pinjaman kredit rumah.

Dengan turunnya suku bunga pinjaman untuk kredit rumah, yang kini rata-rata di bawah 3%, sebagian warga Indonesia yang tinggal di Amerika memanfaatkan kesempatan ini untuk mewujudkan impian Amerika, yakni memiliki rumah di negeri Paman sam.

Amin Rachman (52 tahun), yang tinggal di AS sejak tahun 1993, adalah satu diantaranya. Pria kelahiran Jakarta ini, bersama istri dan tiga anaknya itu, akhirnya membeli rumah April lalu, setelah selama empat bulan mencarinya

Amin yang bekerja di Kantor Pos Amerika itu merasa sangat bahagia dan nyaman berada di lingkungan rumah idamannya di kawasan Gaithersburg, Maryland. Kepada Puspita Sariwati dari VOA ia mengatakan, “Saya sangat bersyukur bisa beli rumah, kebetulan saya dapat bunga 2,75%. Komunitasnya bagus sekali, saling menghormati, saya suka banget. Yang kedua, tidak jauh dari tempat saya kerja, juga sekolah anak-anak tidak begitu jauh.”

Amin membeli rumah dengan bantuan realtor asal Indonesia, Jonathan Lahey. Jonathan dan salah satu anggota grupnya, Isti Mitchell, sering membantu warga Indonesia mewujudkan impian Amerika lewat perusahaan agen jual beli rumah yang mereka dirikan, Lahey Group. Bagi John, begitu ia biasa dipanggil, menjadi realtor adalah panggilan hatinya.

Jonathan Lahey, diaspora Indonesia yang menjadi Realtor di AS (foto: courtesy).


Jonathan Lahey, diaspora Indonesia yang menjadi Realtor di AS (foto: courtesy).

“Saya suka membantu orang ya, untuk mendapatkan rumah yang mereka inginkan. Selama 15 tahun bekerja di real estat, kami sudah membantu banyak sekali orang Indonesia yang tinggal di daerah Washington, DC untuk mereka beli dan jual rumah. Jadi tahun ini kami membantu juga banyak orang Indonesia yang menjual dan upgrade rumah yang lebih besar, karena bunga pinjamannya sedang rendah. Dalam bulan Agustus, kami membantu hampir 30 orang, jadi satu hari satu orang dalam tim saya. Ada 22 realtor dalam tim saya ini The Lahey Group”.

Lain halnya dengan Ana Hardiman yang telah bekerja selama 17 tahun sebagai asisten dokter gigi. Ia membeli rumah pertamanya tahun 1996, namun kini Ana, yang lahir di Jakarta 56 tahun lalu, ingin membeli rumah yang lebih baru. Baginya, mempunyai rumah yang lebih besar adalah impiannya, agar bisa berkumpul bersama anak-anak dan cucunya kelak, di samping memanfaatkan suku bunga pinjaman yang rendah.

“Saya memang mempunyai suatu impian, suatu saat saya mempunyai rumah yang lebih besar ya, dan saya memilih rumah baru karena bisa memilih yang saya mau, lantainya, lemarinya. Kebetulan saat ini bunga kredit juga sedang turun, jadi kesempatan baik untuk membeli rumah. Saya juga memakai realtor orang Indonesia, jadi saya merasa lebih nyaman dan menanyakan segala sesuatunya dengan sesuka hati ngga ada rasa sungkan”.

Wiwit Tjahjana, realtor (kiri) bersama Ana Hardiman dan suaminya, Nugroho. (foto: courtesy)


Wiwit Tjahjana, realtor (kiri) bersama Ana Hardiman dan suaminya, Nugroho. (foto: courtesy)

Realtor Wiwit Tjahjana membantu mencarikan rumah baru yang belum dibangun untuk Ana di kawasan baru di Maryland.

“Kami melayani pembelian rumah pertama dan pembeli yang sudah punya rumah tetapi mau pindah ke rumah yang lebih besar. Dan juga rumah yang akan dibangun di komuniti yang dibangun oleh pembangun rumah (builder), itu prosesnya lebih lama. Dari pertama kontrak sampai jadi, prosesnya bisa 3 sampai 6 bulan. Di Amerika paling populer, KPR (Kredit Pinjaman Rumah) atau di sini disebut mortgage itu 30 tahun, dan suku bunganya fixed atau tetap dan tidak ada penalti. Pilihan kedua bisa 20 tahun atau 15 tahun, tergantung dari kemampuan membayar bulanannya berapa, gitu,” jelasnya.

Suku bunga yang rendah untuk kredit rumah sekarang ini juga mendorong generasi milenial Indonesia yang tinggal di Amerika, Aryo Sumitro, 28 tahun, yang baru saja dikaruniai seorang anak perempuan, membeli rumah bulan Juli lalu di Silver Spring, Maryland. Aryo yang dipanggil akrab dengan Rio lahir di Amerika dan bisa berbicara bahasa Indonesia meskipun dengan aksen Amerika.

Rumah tidak berdempet (single house) dengan satu garasi. (foto courtesy)


Rumah tidak berdempet (single house) dengan satu garasi. (foto courtesy)

Ketika ditemui VOA, Rio mengatakan, “Pada tanggal 1 Juli, saya bisa membeli rumah, single house dan realtornya teman saya sendiri. Banyak orang yang beli rumah karena bunganya sangat kecil sekitar 2 sampai 3 persen. jadi kita harus membuat keputusan secepatnya. Saya sudah lihat beberapa rumah tapi tidak jadi karena pembeli selalu menaikkan harga. Waktu lihat rumah yang terakhir, saya naikkan harga dari penawaran supaya mendapatkan rumah itu. Setelah itu dalam jangka satu minggu, Alhamdulillah saya beli rumah”.

Membeli rumah di AS memang mudah, namun membeli yang sesuai dengan keinginan dan harga yang pantas tidaklah mudah. Pasar rumah di Amerika saat ini kekurangan suplai sehingga harganya lebih tinggi dari biasanya.

Rumah dempet (Town House) di Maryland. (Foto: dok.Puspita)


Rumah dempet (Town House) di Maryland. (Foto: dok.Puspita)

Asosiasi Realtor Nasional AS (NAR) melaporkan, harga rumah selama Juni dan Juli lalu mencatat rekor tertinggi dalam sejarah. Banyak orang kini juga ingin membeli rumah yang jauh lebih besar dan jauh dari pusat-pusat kota, seiring banyaknya perusahaan yang saat ini mengizinkan para pegawai mereka kerja dari rumah.

NAR melaporkan, penjualan rumah di AS sebelumnya pernah meningkat 24.7% pada bulan Juli dibanding bulan sebelumnya. Sekitar 5,86 juta unit rumah dibeli pada bulan itu. Menurut Freddie Mac, rata-rata suku bunga pinjaman 30 tahun untuk kredit rumah saat ini 2,98%, terendah sejak 1971. [ps/ab]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia