Meski Ada Dukungan Biden, Jalan Menuju Perdamaian di Yaman Masih Panjang

30

Buthaina Al-Raimi baru berusia lima tahun ketika serangan udara Arab Saudi menghancurkan rumahnya di Ibu Kota Yaman pada Agustus 2017. Serangan itu menewaskan kedua orang tua dan seluruh saudaranya yang berjumlah lima orang.

Sejak saat itu ia masih kerap menangis tanpa alasan. Ketika mendengar suara pesawat terbang, ia berteriak pada pamannya “mereka akan membunuh kita.”

Bagi pamannya, Khalid Mohammad Saleh, keputusan Amerika Serikiat bulan lalu untuk menghentikan dukungan kepada koalisi pasukan Arab Saudi dan mendorong diakhirinya perang dapat mengakhiri penderitaannya.

“Ini keputusan yang bijaksana, tetapi terlalu terlambat,” ujarnya. Menurutnya, masih terlalu dini untuk mengatakan apakah langkah Presiden Joe Biden akan membawa perdamaian di Yaman.

AS Setop Dukungan

Rencana Biden untuk menghentikan dukungan bagi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi merupakan jeda dramatis dalam serangan udara melawan kelompok pemberontak Houthi di Yaman. Masyarakat internasional mengecam kampanye itu karena menyebabkan tewasnya ribuan warga sipil.

Seorang kombatan Houthi mengendarai tank sambil menjaga jalan menuju kediaman mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang dibunuh oleh pemberontak Shiah, 4 Desember 2017. (Foto: AP)


Seorang kombatan Houthi mengendarai tank sambil menjaga jalan menuju kediaman mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, yang dibunuh oleh pemberontak Shiah, 4 Desember 2017. (Foto: AP)

Dengan langkah itu Biden meluncurkan dorongan baru untuk mengakhiri perang yang sudah berjalan selama enam tahun dan membuat negara termiskin di dunia Arab itu jatuh dalam bencana kemanusiaan.

Namun, mencapai perdamaian tidak mudah. Sejak 2019 pihak yang bertikai belum melakukan perundingan yang substantif. Setelah tercapainya kesepakatan yang dimediasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2018 pasca gagalnya perundingan di Swedia, hanya satu komponen yang menunjukkan kemajuan, yaitu pertukaran tahanan. Kesepakatan tersebut dicapai dalam beberapa putaran perundingan.

Pertempuran di darat dan serangan udara koalisi terus berlanjut. Sementara cengkeraman kelompok Houthi di bagian utara negara itu semakin kuat dan dalam satu tahun terakhir ini mereka berhasil merebut wilayah baru dari pasukan pasukan pro-pemerintah.

Pakar Yaman di International Crisis Group, Peter Salisbury, mengatakan perubahan kebijakan Biden adalah “berita yang sangat disambut baik,” tapi katanya “tidak secara otomatis berarti mengakhiri perang sama sekali.”

10 Tahun Perang

Kamis (11/2), Yaman menandai 10 tahun pecahnya perang sejak jatuhnya pemimpin otoriter yang lama berkuasa, Ali Abdullah Salleh, di tengah pergolakan “Arab Spring.” Pada awalnya, warga Yaman berharap momentum itu memicu terbentuknya pemerintahan yang efektif dan kebebasan yang lebih besar.

Sebaliknya, pasca dikuasainya Ibu Kota Sanaa dan sebagian besar wilayah di bagian utara oleh kelompok Houthi pada 2014, dan digulingkannya pemerintahan Presiden Abed Rabu Mansour Hadi, perang yang brutal pun tak terhindarkan.

Pemberontak Houthi meneriakkan slogan-slogan setelah berhasil menguasai sebuah divisi militer di Sanaa, Yaman. (Foto: AP)


Pemberontak Houthi meneriakkan slogan-slogan setelah berhasil menguasai sebuah divisi militer di Sanaa, Yaman. (Foto: AP)

Arab Saudi memimpin koalisi yang mengobarkan kampanye serangan udara sambil mendukung pasukan sekutu yang menguasai wilayah selatan guna memulihkan pemerintahan Hadi yang diakui masyarakat internasional.

Perang yang berkepanjangan itu telah menewaskan lebih dari 130 ribu orang dan menghancurkan infrastruktur Yaman yang sudah terbengkalai, mulai dari jalan, rumah sakit hingga fasilitas listrik dan air bersih.

Badan-badan bantuan PBB telah mengingatkan bahwa krisis kelaparan akibat perang itu dapat bergulir menjadi kelaparan akut.

Pemerintahan Obama memberi lampu hijau intervensi pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman. Selama beberapa tahun Amerika mendukung pasukan koalisi dengan intelijen, bahan bakar pesawat, dan penjualan senjata.

Keterlibatan Amerika dengan komando dan kendali Arab Saudi sedianya meminimalisasi serangan udara terhadap warga sipil. Namun, seringkali yang terjadi justru sebaliknya. Pasukan koalisi dikecam keras karena melakukan serangan tanpa pandang bulu yang menghantam pasar, sekolah dan infrastruktur sipil lainnya, juga membuat puluhan ribu orang tewas, atau luka-luka.

Buthaina menjadi simbol harga yang harus dibayar warga sipil Yaman ketika fotonya pasca serangan pada Agustus 2017 viral. Foto itu memperlihatkan memar di kedua matanya. Sejak kehilangan keluarganya, ia dirawat pamannya Saleh dan keluarga lain.

“Hidupnya, seperti juga banyak lainnya, hancur sebelum dimulai,” ujar Saleh. [em/ft]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia