Menlu Jerman di Tripoli, Desak Akhiri Perang di Libya

20

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas, melakukan kunjungan mendadak ke Tripoli dan mengatakan bahwa dunia seharusnya tidak terkelabui oleh ketenangan di Libya pada saat ini dan mencari cara untuk mengakhiri konflik di negara itu.

Maas mengatakan hal tersebut saat kedatangannya di negara Afrika Utara itu, Senin (17/8). Ia dijadwalkan melangsungkan pembicaraan dengan para pejabat pemerintahan yang diakui PBB di Tripoli untuk membahas cara-cara keluar dari situasi berbahaya di mana kedua pihak yang terlibat dalam perang saudara masing-masing dipersenjatai sekutu-sekutu internasional mereka.

Libya terjerumus dalam kekacauan setelah pergolakan yang didukung NATO pada 2011 menggulingkan diktator yang sudah lama berkuasa Moammar Gaddafi, yang belakangan tewas dibunuh. Negara tersebut sejak itu terpecah antara pemerintah yang berbasis di Timur dan pemerintah yang berbasis di Barat, yang masing-masing didukung kelompok-kelompok bersenjata dan pemerintah-pemerintah asing.

Komandan militer Khalifa Hifter dan militernya melancarkan serangan pada April 2019 dalam usaha merebut Tripoli. Namun, usahanya gagal pada Juni sewaktu milisi-milisi yang bersekutu dengan Tripoli dan dengan dukungan Turki, berhasil menghalau mereka ke luar dari pinggiran Tripoli dan kota-kota lainnya di wilayah Barat.

Hifter didukung Mesir, Uni Emirat Arab (UEA), dan Rusia. Turki, saingan sengit Mesir dan UEA, dan Qatar adalah penyokong utama pasukan di Tripoli.

Jerman selama ini berusaha menjadi penengah. Pada Januari lalu, Jerman mengadakan sebuah KTT di Berlin yang mengundang partisipasi kedua pihak yang bertikai di Libya. Kedua pihak sepakat untuk menghormati embargo senjata dan mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk mencapai gencatan senjata sepenuhnya. Namun, kesepakatan itu berulang kali dilanggar. [ab/uh]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia