Mengintip Dhole-dhole, Imunisasi ala Buton di Festival Budaya Tua Buton

Buton kaya akan ritual tradisional warisan leluhur masa lalu. Warisan itu berkaitan dengan kehidupan manusia yang hidup di Buton. Bagi orang Buton Ritual itu adalah tradisi yang harus dilaksanakan, agar hidup generasi pewarisi tradisi lebih baik.

187

KabarApa.com – Tangis bayi yang dipanggil Nurdia itu pecah ketika sang bhisa (dukun) menggulingkannya di atas hamparan daun pisang yang diolesi minyak kelapa. Sesaat sang Bhisa mengangkatnya sambil menggumamkan doa-doa ke sang Khalik lalu diletakannya di atas pedupaan yang mengepulkan asap. Sang Ibu Suhartia memandang bayinya dipangkuan bhisa dengan senyum. Tak ada keraguan di hatinya sedikitpun ketika bayinya yang berumur dua tahun menangis dipangkuan bhisa dalam menjalani prosesi Dhole-dhole. Di hati Suhartia ada pengharapan yang tinggi yang diam-diam dilantunkannya dalam hatinya untuk bayinya kelak akan tumbuh dengan sehat sesudah prosesi dhole-dhole.

Bagi orang-orang Buton, prosesi dhole-dhole adalah ritual ‘wajib’ bagi bayi baik laki-laki maupun perempuan. Setelah prosesi dhole-dhole, orang-orang Buton meyakini bayinya akan sehat karena telah proses warisan leluhur tersebut.

Ritual Dhole-dhole dilakukan oleh seorang bhisa. Wanita seapruh baya yang bukan hanya menguasai prosesi ritual itu, tapi diyakini mampu memberikan kekebalan bagi sang bayi di masa kelak. Bhisa juga menguasai doa-doa yang hendak dipanjatkan pada sang khalik, sebab dalam prosesi dhole-dhole itu tahapan demi tahapan memiliki’ bacaan yang berbeda.

“Bayi yang setengah telanjang digulingkan di atas daun pisang yang telah diolesi minyak kelapa. Setelah itu didiletakan lagi ditas dupa yang mengepul, supaya mereka tahan terhadap penyakit. Baik penyakit yang dibawah oleh alam mauoun yang dibawah oleh makhluk halus,” begitu kata sang bhisa, Ani (55) asal Kelurahan Kambula-mbulana, Kecamatan Pasawajo, Buton.

Ani, dengan telaten ‘mengerjakan’ dhole-dhole Wa Ode Nurdia. Setelah diguling-diletakan di atas pedupaan lalu ‘dibaca-baca’, sang bayi diserahkan kembai ke ibunya. Prosesi dhole-dhole pun selesai.

Tradisi Dhole-dhole adalah tradisi tua yang diwariskan secara turun temurun, yang merupakan imunisasi secara alamiah bagi masyarakat Buton. Prosesi Pedole-dole dilaksanakan untuk anak yang berumur dibawah 5 tahun. Pelaksanaan Pedole-dole ini biasanya dilengkapi dengan pemberian nama bagi anak.

Tradisi Pedole-doledole ini berawal dari masa anak seorang Raja Buton bernama Betoambari sakit-sakitan. Atas petunjuk melalui meditasinya diperoleh jawaban bahwa harus dilaksanakan Pedole-dole terhadap anak tersebut. Setelah dilaksanakan prosesi Pedole-dole, Betoambari sembuh dan dan tumbuh sehat seperti anak lainnya. Sehingga Raja menginstruksikan agar semua masyarakat di wilayah Buton melaksanakan tradisi itu terhadap anak-anaknya. Dalam rangka menumbuh kembangkan tradisi Pedole-dole.

Pemerintah Kabupaten Buton sejak tahun 2013 telah mencanangkan penyelenggaran Pedole-dole secara massal sebagai rangkaian pelaksanaan Festival Budaya Tua. Dan pada tahun 2019 ini penyelenggaraan Festival Dole-dole sejumlah 219 anak.

“Orang Buton telah mengenal imunisasi sejak zaman dahulu kala. Dan itu telah terbukti mampu memberikan kekebalan tubuh bagi sang bayi,” kata La Ode Zainuddin Napa, Kadis Pariwisata Kabupaten Buton.

“Dan bagi kami orang orang Buton, itu adalah sesuatu yang sangat membanggakan,” tambahnya. Ritual Dhole kata Zainuddin Napa adalah tradisi warisan leluhur yang masih dilakukan oleh orang-orang Buton.

”Nah, dalam Festival Budaya Tua Buton, tradisi ini kami sengaja adakan terus setiap tahun. Selain untuk membantu masyarakat juga mengenalkan tradisi kepada dunia luar bahwa Buton pada zaman dahulu telah memiliki ilmu kemedisan tenatng kekebalan tubuh,” kata Udin, sapaan akrab Zainuudin Napa
Bupati Buton, La Bakry di hadapan para wisatawan mancanegara dan tamu undangan yang memadati pelataran Gedung Perkantoran Bupati Buton di Takawa pada Acara Puncak Festival Pesona Budaya Tua Buton 2019 mengungkapkan dalam pelaksanaannya tradisi ini, jika dilaksanakan perorangan akan membutuhkan biaya yang cukup mahal. Maka pemerintah Kabupaten Buton berinisiatif melaksanakan secara massal guna membantu kesulitan ekonomi masyarakat juga sekaligus untuk ajang promosi dengan mengekspos di berbagai media social dan media nasional baik elektronik, cetak dan online, sehingga tradisi secara massal ini telah mampu menjadi daya tarik wisata.

“Penyelenggaraan Festifal ini awalnya selain untuk memeriahkan Kemerdekaan RI, juga untuk menyambut peserta Rally Sail Indonesia yang setiap bulan Agustus melintas di laut Banda. Pada perkembangan selanjutnya, ternyata Festival ini telah menjadi kebutuhan rutin masyarakat lebih khusus bagi yang tidak mampu membiayai ritual adat yang diwariskan secara turun temurun, seperti tradisi pedole-dole (imunisasi), tradisi tandaki (sunatan), tradisi posuo (pingitan) yang wajib dilaksanakan dalam setiap keluarga di Buton. Semua ritual tradisi ini diakhiri dengan acara makan bersama (pekande- kandea) sebagai bentuk syukur dan diiringi dengan penampilan seni tari tradisional sebagai hiburan rakyat.(*)

Laporan : A. Muh. Ari,

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia