KTT Satu Bumi, Fokus pada Perlindungan Keanekaragaman Hayati

14

Melindungi keanekaragaman hayati dunia menjadi agenda KTT Satu Bumi hari Senin (11/1) yang diselenggarakan lewat video telekonferensi karena pandemi virus corona. KTT satu hari itu memusatkan perhatian pada empat topik utama : melindungi ekosistem darat dan laut, mendorong agro-ekologi atau cara-cara yang lebih berkelanjutan untuk menanam pangan, meningkatkan anggaran untuk melindungi keanekaragaman hayati dan mengidentifikasi kaitan antara deforestasi dengan kesehatan manusia dan hewan. Presiden Perancis Emmanuel Macron dalam kesempatan itu mengatakan, “Saat krisis ini kita semakin tahu bahwa semua kerentanan kita saling terkait satu sama lain. Tekanan terhadap alam akibat kegiatan manusia meningkatkan ketidaksetaraan, mengancam kesehatan dan keamanan kita. Kita perlu melakukan perubahan transformasi model pembangunan dengan cepat. Kita dapat mengubah hal ini jika kita memutuskan untuk mengubahnya.” Hal senada disampaikan Sekjen PBB Antonio Guterres. “Pemulihan pandemi ini menjadi kesempatan bagi kita untuk mengubah arah. Lewat kebijakan yang cerdas dan investasi yang tepat, kita dapat kembali memetakan jalan yang menciptakan kesehatan bagi semua, menghidupkan kembali ekonomi, membangun ketahanan dan menyelamatkan keanekaragaman hayati. Inovasi dalam bidang energi dan transportasi dapat mengarahkan pemulihan berkelanjutan dan transformasi ekonomi dan sosial. Solusi berbasis alam seperti Tembok Hijau Besar Afrika, sangat menjanjikan. Melestarikan keanekaragama hayati dunia juga membuka lapangan pekerjaan. Menurut World Economic Forum, peluang bisnis yang muncul dapat menciptakan 191 juta lapangan pekerjaan baru pada tahun 2030.” Sekitar 30 pemimpin, pejabat-pejabat pemerintah dan kepala organisasi internasional menghadiri konferensi ini, termasuk Sekjen PBB Antonio Guterres, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Kanselir Jerman Angela Merkel, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, dan Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau. China diwakili oleh Wakil Perdanan Menteri Han Zheng. Acara, yang diselenggarakan oleh Perancis bersama PBB dan Bank Dunia, tidak dihadiri oleh pejabat-pejabat tinggi dari Amerika karena presiden terpilih Joe Biden, yang merupakan pendukung kuat isu iklim, belum akan menjabat hingga tanggal 20 Januari nanti. [em/jm] (VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia