Jokowi Pandang Pelibatan Tokoh Masyarakat Penting untuk Edukasi Covid-19

9

Presiden Joko Widodo melihat masih banyak masyarakat yang belum diedukasi dengan baik terkait wabah Covid-19. Ia mencontohkan, banyak masyarakat yang belum paham dengan tata cara penguburan jenazah Covid-19, sehingga penyebaran virus corona masih dengan mudah terjadi. Jokowi merasa, peran tokoh-tokoh penting di kalangan masyarakat sangat dibutuhkan..

“Kemudian pelibatan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, budayawan, sosiolog, antropolog dalam komunikasi publik harus secara besar-besaran harus kita libatkan. Sehingga jangan sampai terjadi lagi merebut jenazah yang jelas-jelas Covid, oleh keluarga. Itu saya kira sebuah hal yang harus kita jaga tidak terjadi lagi setelah ini,” ungkapnya dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (29/6).

Hal ini sama dengan upaya Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 dalam mencari kasus positif dengan melakukan rapid test dan tes PCR. Masih banyak tenaga kesehatan yang ditolak ketika mendatangi sebuah pasar untuk melakukan pemeriksaan. Menurutnya, dibutuhkan suatu strategi dan edukasi yang baik, sehingga masyarakat pun bisa bekerja sama dengan baik.

“Kemudian pemeriksaan PCR maupun rapid test yang ditolak oleh masyarakat. Ini karena apa? Mungkin datang-datang pakai PCR, datang-datang rapid test, belum ada penjelasan terlebih dahulu. Sosialisasi dulu ke masyarakat yang akan didatangi. Sehingga yang terjadi adalah penolakan,” jelasnya.

Kembali Jokowi juga mengingatkan Kementerian Kesehatan untuk mempercepat pencairan anggaran sebesar Rp 75 triliun yang masih belum tersalurkan kepada yang membutuhkan. Ia menginstruksikan agar prosedur serta birokrasinya lebih disederhanakan, sehingga bantuan pun bisa cepat didapatkan terutama oleh tenaga kesehatan yang menjadi garda terdepan dalam masa pandemi ini.

“Selanjutnya saya minta agar pembayaran reimbursement untuk pelayanan kesehatan yang berkaitan dengan Covid ini dipercepat pencairannya. Jangan sampai ada keluhan. Misalnya yang meninggal itu harus segera. Bantuan, santunan itu harus mestinya begitu meninggal bantuan santunan harus keluar. Prosedunya di Kementerian Kesehatan betul-betul bisa dipotong. Jangan sampai bertele-tele. Kalau aturan di Permennya berbelit-belit ya disederhanakan. Pembayaran klaim rumah sakit secepatnya. Insentif tenaga medis secepatnya. Insentif petugas lab juga secepatnya. Kita nunggu apa lagi? Anggarannya sudah ada,” tegasnya.

Doni Monardo: Masih Ada 57 kabupaten/kota Masuk Zona Merah

Kepala Gugus Tugas Percepatan dan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengklaim zona merah Covid-19 di Tanah Air sudah menurun drastis. Sampai detik ini, setidaknya ada 57 kabupaten/kota yang masih berada dalam zona merah. Jumlah tersebut kata Doni sudah menurun sebanyak 50 persen.

“Tetapi kalau kita lihat ada sejumlah daerah yang tadinya merah pada 1 Juni lalu, sekarang sudah mengalami perubahan, dalam kurun waktu yang tidak lama, dalam kurun waktu tiga minggu daerah yang zona merah dari 108 bisa berubah menjadi 57. Langkah-langkah inilah salah yang harus dioptimalkan setiap komponen di tiap-tiap daerah,” ujar Doni.

Penurunan zona merah tersebut, kata Doni,tidak luput dukungan dan kerja sama, dan kerja keras semua komponen masyarakat. Maka dari itu, menurutnya kearifan lokal dapat membantu meningkatkan pengetahuan masyarakat untuk menjalankan protokol kesehatan yang ketat dan juga disiplin.

Pemerintah Klaim Angka Kematian Akibat Covid-19 di Indonesia Lebih Rendah Dibandingkan Jepang

Juru bicara penanganan kasus virus corona Dr Achmad Yurianto melaporkan pada Senin (29/6) Indonesia kini memiliki 55.092 kasus Covid-19, setelah ada penambahan 1.082 kasus baru hari ini.

Yuri juga mengumumkan ada 864 pasien yang sudah diperbolehkan pulang hari ini, sehingga total pasien yang telah pulih mencapai 23.800.

Jumlah kematian masih terus meningkat. Sebanyak 51 orang meninggal dunia, sehingga jumlah total penderita yang meninggal pun menjadi 2.805.

Meskipun jumlah kematian terus meningkat setiap harinya, namun Yuri mengklaim bahwa Case Fatality Rate (CFR) akibat Covid-19 di Indonesia lebih rendah dibanding dengan Jepang.

“Kalau kita coba lebih dalami tentang CFR, persentase kasus meninggal dari penyakit ini, angka dunia adalah 5,01 persen. Angka nasional kita ada di 5,15 persen, lebih rendah dibanding Jepang yang 5,33 persen,” ujar Yuri.

Namun, Yuri mengakui jumlah spesimen yang diperiksa setiap harinya masih kalah dari Jepang. Indonesia sendiri baru bisa memeriksa sebanyak 2.779 per satu juta penduduk, sedangkan Jepang bisa memeriksa 3.484 per satu juta penduduk.

Jumlah orang dalam pemantauan (ODP) kini 41.605, sementara jumlah pasien dalam pengawasan (PDP) 13.335. [gi/ab]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia