Jelajah Masakan Nusantara, Dari Jakarta Hingga New York

18

Pandemi boleh jadi membatasi banyak kegiatan, namun tidak untuk yang satu ini: mempopulerkan masakan khas Indonesia di panggung internasional secara daring. Sejumlah pakar kuliner Indonesia, mulai dari koki, penulis, pendongeng hingga fotografer makanan, baru-baru ini bahu-membahu memperkenalkan kekayaan seni olah pangan Indonesia.

Salah satu acara itu digelar Yummy, media digital yang berfokus pada makanan. Sepanjang Desember lalu mereka menggelar kegiatan virtual besar yang diberi judul “Indonesia memasak”.

Mengusung tema “Jelajah Masakan Nusantara”, acara itu menghadirkan serangkaian kegiatan online seperti kelas memasak, bincang-bincang, lokakarya makanan dan minuman, hiburan dan bazar. Seluruh rangkaian kegiatan itu ditayangkan di sejumlah platform, seperti YouTube, Instagram, dan Zoom.

Generasi muda perlu mengembangkan kreativitas dalam memasak.(Foto: Mandif Warokka)


Generasi muda perlu mengembangkan kreativitas dalam memasak.(Foto: Mandif Warokka)

Beberapa nama besar dunia kuliner Indonesia ikut terlibat, termasuk William Wongso yang sempat menjadi buah bibir banyak orang saat memasak rendang bersama koki terkenal asal Inggris, Gordon Ramsay beberapa waktu lalu dalam program televisi populer Gordon Ramsay Uncharted.

Sejumlah pengusaha kuliner yang terlibat adalah Max Mandias, koki eksekutif sekaligus pendiri Burgreens; Ade Putri, seorang penulis makanan, pembawa acara Akaras, juri Iron Chef Indonesia, pemilik Kedai Aput dan salah satu pendiri situs makanan dan minuman Beergembira; dan Mandif Warokka, pemilik dan koki eksekutif restoran mewah Blanco par Mandif.

Menurut Mandiff, lewat acara “Indonesia memasak”, ia ingin mendorong generasi muda mengembangkan kreativitas mereka dalam mengolah dan menyajikan masakan Indonesia, sambil mempertahankan keotentikannya.

“Awalnya saya diminta menyajikan fussion masakan Indonesia dan masakan Eropa. Saya bilang saya akan buat masakan Indonesia dan tidak harus di-fussioned dengan masakan Eropa. Saya ingin memperlihatkan bahwa masalah penyajian, rasa dan tekstur itu hanyalah persoalan teknis. Yang paling penting adalah mereka termotivasi untuk mengembangkan kreativitas. Kita tidak harus meng-combine dengan flavor lain. Kita bisa menyajikan masakan otentik Indonesia, namun menyajikannya secara lebih kompleks dan unik,” kata Mandiff.

Perlu mempertahankan keotentikan masakan Indonesia di panggung internasional. (Foto: Mandif Warokka)


Perlu mempertahankan keotentikan masakan Indonesia di panggung internasional. (Foto: Mandif Warokka)

Blanco par Mandif menyuguhkan menu Indonesia dalam format degustation—istilah seksi yang jika diterjemahkan secara bebas berarti: serangkaian menu berporsi mini dengan presentasi yang menggugah.

Sejak dibuka Juni 2015 silam, restoran yang didirikan koki berdarah Manado namun dibesarkan di Jawa ini langsung menjadi bagian dari lansekap kuliner Bali yang memang kian ramah terhadap terobosan-terobosan segar.

Mandif sebelumnya pernah memimpin dapur Teatro Gastroteque Bali di Seminyak dan Ju-Ma-Na di Ungasan. Koki yang pernah mendapat sejumlah penghargaan nasional dan internasional ini pernah juga bekerja sebagai koki tamu di berbagai restoran paling bergengsi di Eropa seperti Schloss Elmau dan Eisvogel di Jerman.

Konsep restoran Blanco par Mandif lebih mirip dengan secret dining. Untuk menjangkaunya, tamu mesti menembus celah kecil, menuruni tangga dua lantai, lalu memasuki sebuah lorong di mana sejumlah kursi ditata menatap area dapur dan membelakangi lembah hijau yang dibelah oleh Sungai Campuhan.

Natasha Halim atau Caca, salah seorang kreator konten kuliner dari Chubby Traveller juga turut meramaikan Indonesia Memasak dengan ditemani oleh Kevindra Soemantri, penulis kuliner berpengalaman yang memulai karirnya sebagai finalis termuda dalam ajang MasterChef Indonesia musim pertama tahun 2011.

Memotret makanan ada seninya. (Foto: Natasha Halim)


Memotret makanan ada seninya. (Foto: Natasha Halim)

Dalam kesempatan itu, Caca mengajarkan pentingnya seni memotret dalam mempresentasikan masakan Indonesia di media sosial. Ia mencontohkan beberapa kesalahan yang sering dibuat orang-orang yang suka memamerkan masakan hasil karya mereka di media sosial.

“Di tempat gelap. Orang cenderung pakai flash. Itu keliru. Flash itu dekat dengan kamera sehingga bisa mengubah warna hingga 90 persen. Seharusnya gunakan flash dari ponsel teman dari seberang atau samping. Atau memotret dalam jarak yang terlalu dekat sehingga apa yang ingin ditampilkan menjadi tidak jelas,” kata Caca.

Martin Praja, host program “Masak-Masak” yang dikenal dengan beragam kreasi kuliner khas miliknya, berbagai rahasia dalam membuat Martabak Makblarr yang empuk dan mengembang.

Dua pakar kuliner terkenal lainnya, Venithya Calista dan Ibra Isman, mengajak penonton mengeksplorasi kreativitas mereka dalam mengolah Cumi Cabai Garam dan Telur Dadar Keriting.

Winston Utomo selaku CEO IDN Media yang mengoperasikan Yummy mengatakan, kekayaan dan keanekaragaman kuliner Indonesia menjadi inspirasi utama menyelenggarakan Indonesia memasak.

“Kami berharap acara ini dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, mulai dari Aceh sampai Papua. Kami juga berharap acara ini dapat menjadi inspirasi sekaligus platform untuk melestarikan kuliner khas Nusantara yang begitu luar biasa,” katanya.

Getuk. (Photo: Mandif Warokka)


Getuk. (Photo: Mandif Warokka)

Dalam rangka menyambut tahun baru Museum Food and Drink (MOFAD) di New York juga menggelar demo memasak dan bincang-bincang mengenai makanan dan tradisi Indonesia 7 Januari lalu.

Acara yang berlangsung secara virtual itu mengeksplorasi keanekaragamanan masakan khas Indonesia, dan bagaimana perempuan secara turun temurun mempelajarinya. Beberapa diaspora Indonesia yang terkenal dalam dunia kuliner Amerika berpartisipasi dan berbagi pengalaman mereka, termasuk di antaranya Siska Silitonga, Pepy Nasution, Elvi Goliat, Anastasia Tjahjadi dan Felisia Tan.

Siska Silitonga, pemilik bisnis makanan ChiliCali di San Francisco mempertunjukan cara membuat Sambal Tempe dan Terong. Pepy Nasution, penulis dan fotografer makanan di balik indonesiaeats.com, blog makanan dan arsip resep online, mengajak peserta menelusuri sejarah makanan Indonesia.

Udang Goreng Tauco. (Foto: Mandif Warokka)


Udang Goreng Tauco. (Foto: Mandif Warokka)

Felisia Tan, yang aktif mengajar di sekolah memasak The Brooklyn Kitchen dan memiliki program pendidikan memasak di New York Botanical Garden, berbagi pengalaman mengenai bagaimana menjalankan bisnis makanan khas Indonesia di Amerika yang sangat kompetitif dan beragam.

Ia melihat kegiatan yang digelar MOFAD ini sebagai upaya kolektif untuk menjelaskan masakan Indonesia dari kacamata orang Indonesia sendiri.

“Masakan Indonesia ini sangat beragam, kaya dan berbeda. Kita berusaha mengkomunikasikannya untuk bisa menjawab pertanyaan ‘apa itu masakan Indonesia?’ kepada masyarakat asing. Terserah pada kita untuk menjelaskan atau mendefinisikannya. Masakan Indonesia itu tidak terbatas pada nasi goreng, soto ayam, atau satay. Lebih dari itu, dan lebih dari apa yang terlihat secara kasat mata. Dengan memperkenalkan keragaman masakan Indonesia, orang-orang bisa melihat bahwa keragaman adalah nilai jual masakan Indonesia,” kata Felisia.

Pada kesempatan itu, Anastasia Tjahjadi dan Elvi Goliat, dua di antara pendiri toko Indo Java di Queens, New York, bercerita mengenai suka duka mereka menjalankan bisnis makanan dan minuman khas Indonesia selama masa pandemi. Toko mereka ternyata juga menjadi pusat komunitas untuk berbagi informasi mengenai peluang kerja dan sewa apartemen. [ab/uh]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia