Etika Jurnalistik

136

Di Era reformasi digembar gemborkan masalah kebebasan restrorika dan keterbukaan (Glasnot) di seluruh dunia, kebebasan dan keterbukaan tersebut seolah sudah menjadi trend, masyarakat sudah seenaknya bertindak dan berbuat tanpa memandang atau melihat sendi-sendi agama, budaya, adat istiadat serta aturan hukum, yang pada akhirnya Era Reformasi merusak semua sendi kehidupan manusia.

Profesional dan Obyektif

Adalagi dalam fungsi dan tugas sudah melenceng tidak professional dan obyektif bahkan melacurkan diri dalam tugas

Di Indonesia pada Era kebebasan dan keterbukaan banyak menelurkan Media-Media massa, baik Electronic maupun media cetak, terutama media cetak bak jamur di musim hujan disetiap wilayah timbul media baru ini tentu akan timbul pula Wartawan-wartawan baru yang tidak jelas Back Ground pengetahuan (Ilmu) Jurnalistiknya.

Apalagi recruitment sudah tdk jelas,serta sebagian besar media-media tempat bernaung, tidak melalui pendidikan jurnalis pada setiap wartawan akibatnya banyak yang tidak mengerti dalam konfirmasi, investigasi dan tidak mendasar dalam temuan. Akibatnya banyak preman-preman menjadi wartawan di Indonesia kita akan sangat gampang menemukan masyarakat yg mengeluhkan banyaknya wartawan yang tidak memiliki etika.

Bahkan setiap Saat kita pasti menemukan wartawan yg tidak bertata krama bahkan terkesan menyeramkan (Seperti preman).

Wartawan sekarang dalam tugas mereka tidak professional dan obyektif, bahkan ada yang menjustifikasi seolah mereka lembaga hukum.

Lebih Ekstrim Wartawan kerap mem-Back Up kegiatan Ilegal dan bahkan kadang kala mereka ada bahasa ”Gimana gua”.

Maka atas dasar tersebut di atas mari bersama kita berantas preman –preman berkedok Wartawan.

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia