Dinkes Butur Temukan Delapan Warga Terserang Hepatitis

104

BURANGA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buton Utara (Butur) mencatat, sebanyak delapan warga di daerah itu terserang penyakit heptitis B. Delapan warga ini dijumpai di dua Puskesmas, yakni Waodeburi Kecamatan Kulisusu Utara enam orang dan Labaraga Kecamatan Wakorumba Utara dua orang.

Kepala Seksi P2PM (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular) Dinkes Butur, Herniwati menuturkan, jumlah tersebut sudah sangat memprihatinkan. Kata dia, untuk kasus di Puskesmas Waodeburi, angkanya sudah termasuk dalam kategori yang luar biasa.

“Untuk ibu hamil, satu puskesmas itu sudah enam orang. Angka yang sangat tinggi. Jadi enam orang itu sudah masuk kejadian luar biasa (KLB),” tuturnya di sela-sela acara sosialisasi dan deteksi dini penyakit hepatitis B di Kantor Kecamatan Kulisusu, Senin (29/7/2019).

Dia menjelaskan, delapan warga yang terserang penyakit hati itu adalah ibu hamil. Mereka diketahui terinveksi hepatitis b, setelah melalui proses skrining, di puskesmas setempat.

“Itu yang baru diskrining, yang belum diskrining bagaimana?. Itu (yang discreening) yang baru kita tahu jumlahnya,” kata dia.

Proses skrining, ini lanjutnya, memang perlu dilakukan, terlebih bagi ibu hamil. Hal ini, dimaksudkan, agar bisa dilakukan pencegahan lebih dini terhadap bayi di dalam kandungan. Jika itu tidak dilakukan, penyakit yang dialami sang ibu, bisa menular ke bayi yang akan dilahirkan.

“Jadi setelah ini, kalau sudah bagus sosialisasinya, semua puskesmas, semua ibu hamil wajib di screening. 100 persen, tanpa terkecuali. Karena resikonya langsung menurun sama anaknya. Itu yang bahayanya,” ujar Herniwati.

Terkait dengan obat, pihaknya sudah menyiapkan. Akan tetapi, untuk saat ini, vaksin yang tersedia baru untuk bayi atau ibu hamil. Itu pun, pemberian vaksinnya, harus dilakukan setelah sang bayi dilahirkan, kurang dari tujuh jam.

“Obat ada. Jadi, yang sudah terjaring, yang posisif, kita sudah siapkan vaksinnya. Yang kita siapkan vaksin hanya untuk bayi. Kurang daru tujuh jam bayi lahir, kita harus suntik vaksin, tapi kalau sudah lewat, sudah tertular,” terangnya.

Selain untuk bayi atau ibu hamil, dinkes setempat, belum punya persediaan vaksin. Sehingga, kegiatan sosialisasi yang diselenggarakan, dirangkaikan dengan pemeriksaan dini hepatitis b. Jika ditemukan ada warga yang terserang hepatitis b, di luar ibu hamil, maka akan dicatat, sebagai dasar penyusunan pengadaan vaskin.

“Untuk sementara, dirujuk dulu ke Kendari atau Raha,” katanya.

Herniwati lebih lanjut menjelaskan, hepatitis b ini, adalah salah satu penyakit yang bisa menular. Cara penularnnya pun beragam, mulai dari hubungan sex, hingga berganti sikat gigi, khususnya bagi mereka yang kerap mengeluarkan darah pada gusi saat menyikat gigi, lalu sikatnya digunakan lagi orang lain.

Sementara itu, Bupati Butur, Abu Hasan, mengatakan, deteksi dini penyakit memang perlu dilakukan, termasuk hepatitis b. Ia menyarankan, pemeriksaan kesehatan sedapat mungkin dilakukan, paling tidak sekali setahun, atau enam bulan sekali.

“Oleh karena itu sedini mungkin kita deteksi penyakit,” kata Abu Hasan saat membawakan sambutan di acara sosialisasi, yang dihadiri ratusan masyarakat dan unsur pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan lingkup Kecamatan Kulisusu, Senin (29/7/2019).

Ia mengaku, sangat menyambut baik acara sosialisasi itu. Menurutnya, kegiatan tersebut sangat besar manfaatnya, karena penyakit hepatitis b, merupakan salah satu penyakit yang mengintai siapa saja, dan sudah banyak meyerang masyarakat.

Ia berharap, kesadaran melakukan deteksi dini penyakit, semakin meningkat selepas sosialisasi itu. Sehingga angka masyarakat yang terserang penyakit hepatitis b di daerah otoritasnya, bisa terus ditekan.

“Sosialosasi ini sangat penting dan akan sangat bermankan bagi semua lapisan masyarakat,” ungkap Abu Hasan.

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia