Dialog Anak dan Kemendikbud-Ristek: PR yang Bertumpuk Bebani Siswa

14

Merasa bosan dan kurang bisa memahami pelajaran disuarakan para siswa terkait pengalaman mereka selama mengikuti pembelajaran jarak jauh semasa pandemi COVID-19 dalam setahun terakhir.

Setiawan, pelajar kelas 12 Sekolah Menengah Kejuruan asal Jawa Barat mengungkapkan tantangan yang dihadapi anak selama belajar dari rumah, antara lain terlalu banyak pekerjaan rumah (PR) dan tugas dari guru dalam kegiatan pembelajaran online. Selain itu anak-anak juga dihadapkan pada situasi di rumah yang tidak ideal untuk belajar.

“Stres dengan beban PR dan tugas lainnya. Kedua Kondisi rumah yang tidak kondusif untuk belajar, konflik keluarga, misalkan anak yang terkena dampak broken home dan lain sebagainya, yang ketiga jenuh di rumah terbatas ruang dan waktu,” kata Setiawan dalam Dialog Anak Bersama Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi, Minggu (2/5). Kegiatan itu diinisiasi oleh Dewan Penasehat Anak dan Kaum Muda, lembaga swadaya masyarakat, Save the Children Indonesia.

Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)


Para pelajar dan guru memakai masker setelah pemerintah Indonesia membuka kembali kegiatan belajar tatap mukadi tengah pandemi COVID-19 di Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, 13 Juli 2020. (Foto: Antara /Iggoy el Fitra/via Reuters)

Riset yang dilakukan oleh Jaringan Komunitas Anak untuk Gerakan “Save Our Education” terhadap 125 anak di Sulawesi Tengah, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta pada 15-20 April 2021, mengungkap tantangan yang dihadapi anak-anak menjalani pembelajaran jarak jauh yang terdampak terlalu lama menatap layar gawai dan komputer.

“Jadi karena sering menatap layar, teman-teman itu juga merasa pusing, lelah, stres dan dia tidak bertemu dengan teman secara langsung,” kata Anisa, pelajar asal Yogyakarta.

Menurut Anisa, kurang lebih 45 anak yang dilibatkan dalam studi itu menyatakan kurang bisa fokus saat belajar di rumah karena terkadang diminta orang tua mengerjakan sesuatu, serta situasi berisik dari lingkungan sekitar.

Anisa mengungkapkan harapan agar pandemi bisa segera berakhir sehingga bisa kembali melakukan pembelajaran secara tatap muka di sekolah.

Studi Global Save

Dewi Sri Sumanah, Media & Brand Manager Save the Children Indonesia kepada VOA mengatakan pesan yang disampaikan anak-anak dalam dialog itu memperkuat temuan studi global pada 2020 di 46 negara, termasuk Indonesia.

“Tercatat delapan dari sepuluh anak tidak dapat mengakses bahan pembelajaran yang memadai dan empat dari sepuluh anak kesulitan memahami pekerjaan rumah selama PJJ (pembelajaran jarak jauh),” ujar Dewi.

Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.


Inggit Andini (kanan) mengajar anak-anak yang tidak punya akses internet di rumahnya, di Tangerang, 10 Agustus 2020.

Menurut Dewi pada 2021 pihaknya berupaya mendorong pemerataan akses pendidikan agar setiap anak memperoleh pendidikan yang berkualitas di lingkungan belajar yang aman baik luring maupun daring melalui kampanye gerakan “Save Our Education.” Tahun ini kampanye itu dilaksanakan di Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat, Yogyakarta dan DKI Jakarta.

“Fokus pesan yang kita angkat dalam gerakan ini adalah tentang pemerataan akses terhadap pendidikan untuk setiap anak lalu juga kualitas pembelajaran yang didapat oleh setiap anak dan pentingnya peran orangtua dalam mendukung proses pembelajaran, baik pembelajaran jarak jauh maupun tatap muka yang sedang dipersiapkan,” jelas Dewi.

Penguasaan Teknologi Informasi

Direktur Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) pada Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Muhammad Hasbi mengatakan situasi pandemi COVID-19 juga menempatkan guru pada situasi yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Para guru kini dihadapkan pada kebutuhan penguasaan teknologi informasi untuk pembelajaran secara daring dan kemampuan guru berkomunikasi dengan para orangtua siswa.

“Sehingga apa yang tadinya terjadi di kelas bisa terjadi di rumah melalui perantaraan orang tua dan satu hal yang menopang itu adalah bagaimana orang tua dan guru masing-masing memiliki perangkat teknologi informasi yang memadai,” kata Hasbi.

Diakuinya tidak banyak orangtua yang siap menjadi pendidik di rumah karena keterbatasan kompetensi mengajar seperti guru di kelas.

“Ini membuktikan bahwa memang kita memiliki permasalahan terhadap kompetensi pedagogik orangtua dan kompetensi substansi orangtua, nah keadaan ini kemudian membuat orangtua menjadi stres. Mereka mengalami kesulitan melaksanakan pembimbingan belajar dari rumah,” jelasnya.

Dikatakannya Kementerian Pendidikan telah menyediakan sumberdaya pendidikan bagi siswa dan guru untuk mengakses materi pembelajaran yang lebih bervariasi di platform Rumah Belajar dan Guru Berbagi.

Selain itu Kementerian Pendidikan mulai tahun 2021 akan merekrut satu juta guru dengan perjanjian kerja untuk ditempatkan di daerah-daerah yang mengalami kekurangan guru. [yl/em]

(VOA Indonesia)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia