BUPATI BUTON AJAK GENERASI MUDA BUTON WARISI KEPAHLAWANAN OPUTA YI KOO

54

Pasarwajo – Bupati Buton, Drs. La Bakry, MSi mengajak semua pihak utamanya Generasi Muda Buton untuk mewarisi sifat-sifat kepahlawanan Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi ) Oputa Yi Koo yang baru diberi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden RI di Istana Negara 8 November 2019 lalu.

“Kita sangat bangga dengan dianugerajkannya geralar Pahlawan pada Putra Terbaik Buton, Yakni Sultan Muhammad Saidi atau yang kita kenal dengan nama Oputa Yi Koo sebagai Pahlawan Nasional. Saya mewakili Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Buton dan eks Kesultanan Buton menyampaikan terima kasih dan perngahrgaan yang setinggi-tingginya pada Presiden RI yang telah menganugrahkan salah satu putra terbaik daerah ini,” kata Bupati Buton usai membacakan Amanat Mensos RI pada Upacara Hari Pahlawan Tahun 2019 di Alun-alun Takawa, Pasarwajo, Buton (10112019).

Oputa Yi Koo

Bupati Buton mengungkapkan Oputa Yi Koo berjuang dari hutan ke hutan, melancarkan perang gerilya. Bahkan beliau dipecat sebagai Sultan Buton karena bertentangan dengan upaya-upaya Belanda dalam menguasai Kesultanan Buton pada waktu itu. Setelah perjuangan yang panjang sekali, berbagai Seminar, pada tahun ini Pemerintah RI memberikan gelar Pahlawan Nasional Republik Indonesia.

”Tentu saja ini adalah kebanggaan bagi kita semua. Bagi generasi Buton, mari kita warisi dalam mengisi kemerdekaan yang kita cintai ini dengan semangat kepahlawanan Oputa Yi Koo.

Politisi Golkar ini juga menegaskan peringatan hari pahlawan kita bangkitkan semangat berinovasi bagi anak-anak bangsa untuk emnajdi pahlawan masa kini. “Menjadi pahlawan masa kini dapat dilakukan oleh siapapun warga negara Indoensia, dalam bentuk aksi-aksi nyata memperkuat keutuhan NKRI seperti menolong sesama yang terkena musibah, tidak melaukan provokasi yang dapat menganggu ketertiban umum, tidakk menyebarkan berita hoaks, tidak melakukan perbuatan anarkis atau merugikan orang lain,” kata Bupati Buton.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi atau Oputa Yi Koo mendapat gelar pahlawan bersama putra-putri terbaik Indonesia lainnya. Berikut ini adalah daftar tokoh yang dianugerahi gelar Pahlawan Nasional di tahun 2019 ini.

Abdoel Kahar Moezakir (anggota BPUPKI/PPKI) lahir di Gading, Playen, Gunung Kidul, Yogyakarta, 16 April 1907 dan meninggal di Yogyakarta pada 2 Desember 1973 di umur 66 tahun. Abdoel Kahar Moezakir adalah Rektor Magnificus yang dipilih Universitas Islam Indonesia untuk pertama kali dengan nama STI selama 2 periode 1945—1948 dan 1948—1960. Ia adalah anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).

Alexander Andries (AA) Maramis (anggota BPUPKI/PPKI), lahir di Manado, Sulawesi Utara, 20 Juni 1897 dan meninggal di Jakarta, 31 Juli 1977 pada umur 80 tahun. Alexander Andries (AA) Maramis adalah pejuang kemerdekaan Indonesia. Dia pernah menjadi anggota BPUPKI dan KNIP. Ia juga pernah menjadi Menteri Keuangan Indonesia dan merupakan orang yang menandatangani Oeang Republik Indonesia pertama. Keponakan Maria Walanda Maramis ini menyelesaikan pendidikannya dalam bidang hukum pada tahun 1924 di Belanda.

KH Masykur (anggota BPUPKI/PPKI), lahir di Malang, Jawa Timur, 30 Desember 1904 dan meninggal pada 19 Desember 1994 pada umur 89 tahun. KH Masykur adalah Menteri Agama Indonesia pada tahun 1947-1949 dan tahun 1953-1955. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat RI tahun 1956-1971 dan anggota Dewan Pertimbangan Agung pada tahun 1968.

Prof M Sardjito (dokter dan eks Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada), lahir di Magetan, Jawa Timur, 13 Agustus 1889 dan meninggal pada 5 Mei 1970 pada umur 80 tahun. Prof M Sardjito adalah dokter yang menjadi Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Pada masa perang kemerdekaan, ia ikut serta dalam proses pemindahan Institut Pasteur di Bandung ke Klaten.

Selanjutnya ia menjadi Presiden Universiteit (sekarang disebut Rektor) Universitas Gadjah Mada yang pertama dari awal berdirinya UGM tahun 1949 sampai 1961.
Ruhana Kudus (wartawan dan pendiri Sekolah Kerajinan Amai Setia di Koto Gadang), lahir di Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, 20 Desember 1884 dan meninggal pada 17 Agustus 1972 di Jakarta, pada umur 87 tahun. Ruhana Kudus adalah wartawan Indonesia. Pada 1911, Ruhana mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (KAS) di Koto Gadang.

Sultan Himayatuddin Muhammad Saidy (Sultan Buton) atau Oputa Yi Koo adalah seorang Sultan Buton ke-20 pada 1752-1755 dan ke-23 pada 1760-1763. Ia giat bergerilya melawan menentang pemerintahan Hindia Belanda dalam Perang Buton. Sejak 1755, tidak lama setelah perang Buton, Sultan Himayatuddin menetap di Siontapina hingga meninggal pada 1776 (red)

- Advertise -
Hosting Unlimited Indonesia